referensi aktual mapj majene – sul-bar.salah satu program pemerintah untuk menanggulangi dampak banjir yang terjadi di pemukiman warga adalah dengan membangun drainase. banjir adalah salah satu permasalahan yang sering di keluhkan oleh kalangan masyarakat, terutama memang yang tinggal di kawasan rawan banjir dan padat penduduk. namun, tidak semua program pembangunan drainase yang di bawah naungan pemerintah berjalan dengan baik atau sesuai dengan harapan masysrakat.
contoh, pembangunan drainase yang di bangun di lingkungan apoleang selatan, kelurahan mosso dhua, kecamatan sendana, kabupaten majene, provinsi sulawesi barat, itu sangat tidak sesuai dengan harapan masyarakat, pasalnya, pembangunan drainase tersebut yang menggunakan dana kelurahan yang tepatnya di lingkungan apoleang selatan di duga asal jadi.

bagaimana tidak, panjang drainase tersebut sekitar 70 mtr, lebar 50 cm, dan kedalamannya cuman sekitar 25 cm yang menelan dana 58.500.000 (lima puluh delapan juta lima ratus ribu rupiah). dan lebih parahnya lagi, pada saat hujan drainase tersebut tidak dapat menampung debet air sehingga, air dari drainase tersebut meluap dan masuk menggenangi rumah rumah warga yang tinggal di sekitar drainase tersebut. ini di buktikan pada saat awak media referensi aktual mapjkabupaten majene sulawesi barat.

Pada rabu 17 desember 2025 langsung mendatangi lokasi tersebut dan menemui beberapa warga yang tinggal di seputar lokasi drainase untuk di mintai keterangan menurut sala satu warga yang enggan disebut namanya terkait pembangunan drainase tersebut. ” benar pak sebelum drainase ini di bangun, rumah kami tidak pernah kemasukan air, walaupun hujan dengan intensitas tinggi, namun setelah drainase ini di bangun dan di buat, malah menjadi bumerang buat kami sebab setiap hujan turun, air dari drainase tersebut masuk dan menggenangi seluruh rumah warga, kata salah seorang warga yang enggan di sebut namanya. pada waktu yang sama, awak media referensi aktual mapj langsung menuju ke kantor kelurahan mosso dhua untuk bertemu dengan ibu lurah sebagai penanggung jawab program pembangunan drainase tersebut. dalam dialog wawancara tersebut, awak media referensi aktual mempertanyakan perihal mekanisme dan aturan juknis yang di terapkan oleh pihak ketiga (kontraktor) atau pelaksana yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat, sebab drainase tersebut tidak memiliki mulut pembuangan, melainkan hanya di pasangi pipa yang berukuran kecil untuk pembuangan. dalam wawancara atau kompirmasi tersrbut,
pihak kelurahan dalam ini ibu lurah menanggapi dan mengatakan, bahwa pekerjaan drainase tersebut sudah sesuai dengan juknis yang ada kata beliau dengan santainya. sejak pemberitaan ini di terbitkan, pihak kelurahan maupun oknum kontraktor belum melayangkan klarifikasi terkait pemberitaan ini… rilis basri… editur muh. syahril…













