Majene — Pembangunan drainase di Lingkungan Apoleang, Kelurahan Mosso Dhua, Kecamatan Sendana, kembali menuai kritik warga. Proyek yang dikerjakan melalui pihak kontraktor tersebut dinilai tidak menyelesaikan persoalan aliran air, bahkan memicu kekhawatiran baru saat hujan deras.
Warga menyebut, sebelum drainase diperbarui, kondisi aliran air relatif normal dan jarang meluap. Namun setelah proyek dikerjakan, air justru cepat naik dan alirannya tidak berjalan maksimal. Kondisi ini membuat warga merasa terancam setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi.
Sorotan tak hanya mengarah ke pihak kontraktor dan kelurahan, tetapi juga kepada kepala dusun setempat. Kepala dusun disebut seolah menutup mata terhadap keluhan warga, bahkan sempat mengakui telah mengganti pipa saluran sebagai solusi. Namun hingga kini, pengakuan tersebut tidak dibuktikan dengan perubahan nyata di lapangan.
“Katanya pipa segera diganti, tapi kenyataannya tidak ada perubahan sama sekali.
Lmapj,..menduga lemahnya pengawasan dan sikap pembiaran dari aparat setempat menjadi salah satu penyebab persoalan ini berlarut. Masyarakat mendesak adanya evaluasi terbuka, peninjauan ulang di lapangan, serta pertanggungjawaban dari seluruh pihak terkait agar proyek drainase tidak sekedar formalitas, melainkan benar-benar memberi manfaat.
Akibat proyek yang diduga mangkrak ini, warga apoleang hidup dalam bayang- bayang banjir setiap hujan deras turun. air kerap meluap, menggenangi pemukiman, dan mengancam keselamatan harta benda warga.
“Ironisnya, alih – alih melindungi masyarakat, pihak kelurahan justru diduga melempar tanggung jawab dan membiarkan wargannya menghadapi resiko sendiri, sikap ini dinilai mencederai amanah jabatan dan memperlihatkan lemahnya keberpihakan kepada rakyat.
Atas kondisi tersebut, dengan tegas mendesak pemerintah kabupaten majene melalui instansi terkait, termasuk Inspektorat, untuk segerah melakukan audit anggaran terhadap proyek drainase milik kelurahan mosso dhua.(Basri j)













